Tuesday, April 7, 2015

Potensi Gagap

Ya, gagap itu hasil dari komunikasi timpang.
Tapi, dari komunikasi timpang pula terbentuk pribadi-pribadi unik yang mampu mendengar dan mengobservasi lebih dalam dari yang lainnya. Mudah memahami karena terbiasa mendengar dan melihar, bukan didengar dan dilihat.
Bukankah ini juga potensi?
***
Respon positif itu begini, bukan?
***
Jiwa setiap orang dipahat dari luka, kemudian dapat disambungkan layaknya puzzle dengan jiwa-jiwa lain dengan pahatan luka yang sepadan.
Sinergi itu begini, bukan?
***
gagap
Krisis nilai (harga) diri, 
Bandung, 020214, 01.03
Hana Muwahhida

Munafik

munafik
Bagaimana Rasulullah saw mengetahui seseorang berstatus munafik? Tentu saja, dari wahyu dan petunjuk.
Lalu, apakah Rasulullah mengumumkannya kepada para sahabat, "Si Fulan munafik,"? Tidak.
Lalu, bagaimana sirah mencatat contoh-contoh tokoh pada masa itu yang di-cap munafik sebagai pelajaran? Sahabat-sahabat menyaksikan Rasulullah saw tidak menyolatkan jenazahnya.
***
Maka, menjadi ironi ketika dengan ringannya kata-kata "muna", bahkan tak-jarang "kafir", keluar dari mulut anak-anak hingga anak-tua saat ini.
Hati-hati.
***
Dan, tahukah, orang seperti apa yang saat ini sering di-cap "muna"?
Mereka yang ingin menyembah Allah swt secara totalitas dan menafikan egonya.
Orang-orang bilang mereka munafik, pura-pura, pencitraan.
Padahal, mereka hanya berusaha tidak pura-pura tidak tahu siapa yang menciptakannya.
***
Segini dulu saja, deh.
Kontemplasi Akhir November, 241114, 13.13
Hana Muwahhida

Friday, November 7, 2014

Soal Jihad (Sergeant Farrell, Edge of Tomorrow, 2014)

"Di sini, rumor tersebar cepat. Dalam sekejap kau akan dikenal sebagai pengecut yang kabur dari tugas.
Kabar baiknya, kau punya harapan. Satu-satunya harapanmu adalah pertempuran.
Pertempuran adalah obat yang ampuh, tempat semua prajurit menjadi setara, tidak peduli dalam apa pun kondisi saat mereka memulai," (Sergeant Farrell, Edge of Tomorrow, 2014)
Nb: kurang lebih begitulah apa yang dia bilang.
***
Aaaah, pantas saja Jihad (bersungguh-sungguh dalam pertempuran) itu utama.
It determine whether we're a loser or not.
Membersihkan jiwa, menghapuskan kotoran-kotoran (kepengecutan) yang melekat sejak kita mulai bernapas.
***
"Don't lose your chance, Cage!" (Still Sergeant Farrell, Edge of Tomorrow, 2014)
***
"There's no COURAGE without FEAR!!!" (J-Squad, Edge of Tomorrow, 2014)
***
Sekian.
image
Bandung, 2 Juni 2014

Sayyid Quthb: Tentang "Laa ilaha illallah"

Hanya dari segi bahasa, bangsa arab telah memahami arti kalimay "ilahun" (tuhan) dan memahami pula arti "laa ilaha illallah". Mereka memahami bahwa mengesakab ketuhanan dan mengesakan Allah swt berarti mengembalikan kekuasaan/kerajaan yang 'dirampas' oleh kepala gereja, kepala suku, kepala pemerintahan, dan hakim-hakim kepada Allah swt. Kekuasaan ini meliputi kekuasaan batin (kecintaan), kekuasaan lahir (ketaatan), kekuasaan urusan penghidupan, kekuasaan harta benda, kekuasaan hukum, dan kekuasaan jiwa dan raga.
Mereka semua mengerti bahwa "laa ilaha illallah" merupakan kudeta atas kekuasaan di bumi, hasil rampasan dari kekuasaan Allah. Mereka juga mengerti bahwa kalimat ini berarti kudeta atas aturan-aturan yang dibuat atas dasar kekuasaan perampasan tersebut, serta usaha untuk keluar dari kekuasaan yang memerintah dengan syari'at buatan mereka yang bertentangan dengan syari'at dari Allah swt.
Hal ini tidak asing bagi bangsa arab sebab mereka mengerti betul bahasa mereka sendiri, mengerti betul maksud hakiki dari dakwah kalimat "laa ilaha illallah", juga mengerti arti kalimat ini terkait aturan-aturan yang mereka jalani, kedudukan, dan kekuasaan mereka.
Karena itulah, mereka menanggapi dakwah "laa ilaha illallah" dengan ganas.
(Sayyid Quthb, Rambu-Rambu Jalan Bagi Orang Beriman, hal. 25)
***
Jika makna laa ilaha illallah yang sebenarnya adalah demikian, seperti yang dipahami oleh bangsa arab, apakah maknanya menjadi berbeda pada bangsa lainnya?
image
Bandung, 27 Oktober 2013

Maaf, Aku Tidak Mendoakanmu

Untukmu yang tersayang,
Maaf, aku tidak mendoakanmu diberikan kekayaan dan kejayaan, karena aku tak tahu sejauh mana kekayaan bisa membutakan kita.
Maaf, aku tidak mendoakanmu diberikan kenyamanan, karena dunia bukan tempat kita merasa nyaman.
Maaf, aku tidak mendoakanmu agar dihilangkan semua kesulitanmu, karena kesulitan lah yang membuat kita kuat.
Maaf, aku tidak mendoakanmu agar tidak merasa lelah, karena kelelahan lah yang memunculkan kesadaran kita akan perjuangan.
Maaf, aku tidak mendoakanmu agar tidak usah lagi bekerja di masa tuamu, karena bibit-bibit penyakit itu muncul ketika kita diam.
Maaf, aku tidak mendoakanmu yang kau inginkan, karena kita sendiri tahu, yang kita inginkan tidak selalu berarti yang kita butuhkan.
Maaf, aku hanya mendoakanmu satu hal...
Semoga Allah menenangkanmu.
***
Maka, tidak perlulah kau mintakan aku semua yang kusenangi. Mohonkan aku ketenangan, sehingga dengan itu pula kau mendapatkan ketenangan, melihatku menghadapi semuanya dengan ketenangan, keihlasan, keimanan.
Semoga Allah menenangkanmu, yang dengan begitu pula Allah menenangkanku.
Tenanglah dengan semua yang kita hadapi, Ayah, Bunda, Ibu, adik-adik,  sahabat-sahabat, dan kau.
Jakarta, 11 Oktober 2013, 13.20

Cinta itu berbentuk, Hana

Well, here..
***
*Kita selalu bersama orang yang kita cintai (versi "menyebalkan")
Pada suatu hari, seseorang bertanya kepada Rasul Allah, "Kapan datang hari kiamat?". Rasul Allah menjawab dengan pertanyaan--karena tentu saja pertanyaan ini tidak ada jawabannya, tanya Rasul, "Apa yang sudah kamu persiapkan untuk menyambut kedatangannya?" Lalu orang dari pedalaman itu menjawab, "Tidak ada persiapan apa-apa, selain aku cinta Allah dan Rasul-nya". Maka Rasul bersabda, "Engkau bersama orang yang kamu cintai." (HR Bukhari).
Itu benar sekali.
Nah, adik-adik sekalian, kalau kita cinta sama anggota boyband kinyis2, maka besok pas kiamat, kita akan bersama mereka. Cinta sama artis yg suka pergaulan bebas, hidup serumah tanpa menikah, kita akan bersama mereka. Kalau cinta berat sama pemain bola top yg jago selingkuh, kita akan bersama mereka. Cinta sama seseorang, sesuatu, kita akan bersama mereka. Semoga mereka2 ini bisa menolong.
Penting sekali mencintai seseorang yang juga mencintai balik kita, dan jelas2 bisa membantu kita saat dalam kesusahan besar kelak di hari penghabisan.
--Tere Liye--
***
Cilaka, saya suka banget sama bang Yesung, ya pribadinya, ya suaranya...sampai pada tahap saya sering senyam-senyum sendiri setiap liat atau denger kabar tingkahnya. Apakah saya cinta?
However, cinta itu berbentuk.
Kalau saya bilang saya cinta bang Yesung, tapi saya ga pernah kongkow2 sama Clouds atau Elf utk saling tukar kabar ttg dia, saya tidak mau menghabiskan sekian juta rupiah untuk satu seat di konsernya, tidak memilih menghampirinya sekalipun dia ada di Jakarta (cuma bisa geleng2 liat ELF berkerumun teriak2 memanggil namanya *halah*), apakah saya cinta?
Sama saja, ketika saya ngaku cinta Alloh dan rosul, tapi ga merasa perlu untuk kongkow2 sesama saudara muslim, saling menasihati dalam kebenaran, tidak sampai maniak, tidak berbondong2 mentaati Alloh dan Rasul, tidak ikut berbondong2 meneladani Rasul, tidak bangga dan antusias disebut pengikut Rasul, apakah saya cinta?
Cinta itu berbentuk. Bentuknya itu pengorbanan.
"Engkau bersama orang yang kamu cintai" artinya "Engkau bersama sesuatu yang engkau berkorban untuknya."
--Hana--
*istighfar*
i-love-alloh

Thursday, June 13, 2013

[Selftalk] Kau Marah?

13508277091505189680_300x208.85167464115

Kau pasti familiar dengan adegan ini di drama, film, atau sinetron. Seseorang menahan marah dan kesal, lalu menumpahkannya dengan melempar barang-barang yang ada di sekitarnya, 'menyapu' barang-barang di meja, atau tingkah-tingkah yang merusak lainnya.

Tapi, kemudian setting tempat tersebut dipakai lagi untuk adegan lainnya. Pernah terpikirkan, kah, siapa yang membereskannya? Kau bisa membayangkan, ah mungkin pembantu, atau orang tuanya. Yang jelas, kalau konteksnya drama alias fiksi, ya pasti kru produksinya yang membereskan.

Dan, satu hal lagi yang jelas: aku tidak pernah melihat adegan seseorang yang membereskan barang-barang yang dia lemparkan sendiri karena kemarahannya.

Kenapa? Sepertinya itu akan merusak alur cerita. Pengarang cerita pasti menyediakan 'obat' untuk kemarahan si tokoh. Menjadikannya 'sembuh' begitu saja akan membuat si pengarang kehilangan cerita.

Hemmm, ga ngerti ya? Heu, ya sudah.

***

Kenapa aku bilang "sembuh begitu saja"? Well, sebenarnya aku belum pernah melampiaskan kemarahan dengan melempar barang. Tapi, aku membayangkannya. Betapa beraninya, betapa ksatrianya, seseorang yang merusak sesuatu, lalu memulihkannya kembali.

Kenapa? Kemarahan itu sejatinya merusak. Kau tidak akan bisa merasa ingin 'beberes' ketika marah. Kau pasti merasa ingin merusak sesuatu. Maka, ketika raga bertindak 'memperbaiki', ia sedang mengobati kemarahan yang dirasakan oleh emosi. That's why i said "how brave it is."

***

Bagaimana dengan seseorang yang memendam kemarahan? Orang bilang, emosi yang dipendam itu tidak baik untuk kesehatan. Maka, alih-alih merusak barang di sekitarnya, ia merusak tubuhnya sendiri. Begitukah?

Sepertinya memang begitu. Orang yang memendam marah, kekebalan tubuhnya cenderung menurun. Dia jadi mudah sakit. Jika raganya bisa menahan, hati akan menanggungnya. Entah itu memicu munculnya penyakit-penyakit hati, membuat jalan pikiran menjadi tidak jernih, apa pun.

Well, salah satu contoh, salah seorang pionir pengkhianatan yang terlibat dalam insiden perang khandaq adalah seorang munafik--yang saya lupa namanya dan saya lupa sumberceritanya [dicari dulu yah hehe]--yang tunduk pada Rasulullah setelah Madinah dikuasai. Usut punya usut, sebelum kedatangan Rasulullah, ternyata Ia adalah salah satu tokoh terpandang di Madinah. Dengan kehadiran Rasulullah di madinah, kekuasaannya menjadi terbatas. Ia tunduk, tapi terluka harga dirinya. Kemarahan yang dipendam melahirkan kemunafikan dan pengkhianatan. Raganya memang baik-baik saja, kejernihan hatinya yang hilang.

***

Jadi, harus bagaimana ketika marah? Tidak boleh marah? Entahlah. Emosi itu karunia Alloh, dari sononya manusia memang begitu.

Serba salah? Tidak. Marah, ya marahlah. Tapi, bertanggungjawablah dengan itu semua. Kenapa? Karena realitas itu bukan drama, yang ketika satu tokoh merusak sesuatu karena--ceritanya--marah, kru produksi akan membereskannya untukmu. Bukan.

Kau marah, kau merusak hatimu (misalnya), bertanggungjawablah. Bereskan lagi. Karena kendali dirimu hanya ada di tanganmu sendiri.

***

images (6)

Ada cara lain? Ada. Kalau kau tidak ingin repot bertanggungjawab atas kemarahanmu sendiri (yang bakal banyak membuang waktu), jangan jadi pemarah.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam: “Berilah wasiat kepadaku”. Sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Janganlah engkau marah”. Maka diulanginya permintaan itu beberapa kali. Sabda beliau: “Janganlah engkau marah”.(HR. al-Bukhari)

"Janganlah kamu marah" katanya ada 2 makna:

1. Latih diri untuk selalu sabar dan menjadi pemaaf;
2. Jika timbul rasa marah, kendalikan diri, pikiran, ucapan, tindakan, sebagainya.

Seperti tadi yang aku bahas, marah itu merusak. Ternyata memang kata Rasulullah begitu.
Dalam hadits riwayat Ahmad, laki-laki yang meminta wasiat kepada Nabi itu berkata: “(kemudian aku memikirkan wasiat Nabi tersebut), ternyata kemarahan adalah mencakup keburukan seluruhnya”.

Taruhlah begini, kau merasa kesal dengan orang tuamu. Kau marah dan menghardiknya--sengaja atau tidak sengaja. Bayangkan betapa terlukanya.

Katanya boleh marah asal bertanggungjawab? Silahkan saja. Tapi realistis saja, coba pikir mana yang bisa kita perbaiki seutuhnya dan mana yang tidak. That's why, mengendalikan diri itu PENTING, sodara-sodari.

Bagaimana caranya mengendalikan diri ketika merasa marah?
1. Diam
2. Ingat apa yang akan rusak ketika marah dan bagaimana kita perbaiki, juga berapa banyak waktu dan tenaga yang terbuang percuma. APALAGI hanya karena hal SEPELE.
3. Ta'awuz: "A'udzubillahi minasyaithaanirrajiim" [Artinya tau, kan?]
4. Wudhu
5. Ubah posisi: Berdiri-->duduk-->berbaring

Ah, pokoknya lakukan apa saja yang tidak merusak. Gerakkan raga ke arah yang positif. Kalau perlu, daki Himalaya sampai ke puncak Everest sampai marahnya reda [nyengir].

Hati-hati, karena kemarahan juga, bukan, yang menyebabkan seseorang menghabisi nyawa seseorang?

***

Ternyata, imbalan menahn diri ketika marah itu bukan cuma meringankan beban kita di dunia [untuk bertanggungjawab memperbaiki apa yang sudah kita rusak].

Nih:

Barangsiapa yang menahan amarah padahal ia mampu untuk melampiaskannya, Allah akan panggil ia di hadapan para makhluk pada hari kiamat, hingga Allah menyuruhnya untuk memilih bidadari (terbaik) yang ia inginkan (H.R Abu Dawud, atTirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad)

Sahabat Nabi Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhu berkata: Tidak ada luapan yang lebih besar pahalanya di sisi Allah selain daripada luapan kemarahan yang ditahan oleh seseorang hamba demi menggapai wajah Allah (riwayat al-Bukhari dalam Adabul Mufrad)

tumblr_m1i196hKLg1r7r6nmo1_500
Gambar dari sini

***

See? Allah know you the best..

bayi-marah_resize

Jakarta, 13 Juni 2013, 14.30
Lagi-lagi berbuat 'kriminal' di kantor, xixixixi