Showing posts with label Kutipan. Show all posts
Showing posts with label Kutipan. Show all posts

Saturday, July 7, 2012

..tidak sesederhana itu


Awalnya jelas. “dan tidak Aku ciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka melaksanakan ibadah kepadaKu,” (QS 51 :56). Tetapi memang tidak sesedarhana itu. Paling tidak, banyak dari kita yang muslim merasa tidak SESEDERHANA itu. Karena dunia kebendaan sudah begitu terbuka lebar, menawarkan berjuta suka cita. Kita disudutkan, diperangkap, dan dikotak-kotakkan ke dalam kesalahpengertian. Kita jadi berpikir dan bersikap lain.

Adakalanya, kita perilakukan Tuhan layaknya manusia. Cukuplah dengan sekadar sanjungan, persembahan, dan sedikit peribadahan dalam saat-saat tertentu. Selebihnya, kita menjadi  ‘pelayan’ bagi sesuatu yang lain. Dengan ini kita MERASA telah beribadah.

Atau, kita anggap dunia sebagai rumah penjara. Tubuh adalah ruang tahanan jiwa. Dan antara kesucian serta pencarian aspek kebendaan adalah dua hal yang sulit dipertautkan. Kita tanggalkan dunia. Lari ke pojok-pojok terpencil, membuang dan menyiksa diri. Kita sebut nama Tuhan berulang. Dengan itu kita menganggap sampai kepada puncak kekuatan ibadah. Kita MERASA telah beribadah.

Lalu apa yang bisa diharapkan dari keduanya? Bagaimana kiranya Tuhan berkenan atas pelayanan itu? Bagaimana pula masyarakat muslim bisa terbentuk karenanya?

(Sayid Abul ‘Ala Maududi, Dua Pilar Islam dalam Sistem Peribadatan, 1983)


Friday, May 6, 2011

Negara Intel Indonesia (NII) KW 9 (Arrahmah.com)

Apabila kita mendengar isu Negara Islam Indonesia (NII), maka yang terlintas dalam pandangan masyarakat adalah, kelompok yang ingin mengganti NKRI dengan Negara Islam, dengan menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Seperti, mengeksploitasi wanita bercadar untuk merampok dan memeras uang, termasuk mengancam dibunuh bila keluar dari komunitas tersebut.

Akibatnya, serentetan persepsi negatif itu, tidak saja berdampak buruk bagi komunitas itu, tapi juga terhadap Islam itu sendiri. Bahkan akhir-akhir ini, tidak saja mengaitkan gerakan Islam Syari’at dengan NII, tapi juga menyematkan labelalisasi terorisme.

Kasus terbaru adalah terungkapnya kasus Laila Febriani alias Lian, 7 April 2011, pegawai honorer Departemen Perhubungan, yang terdampar dua hari di Masjid At Ta’awun dikawasan Puncak, Bogor. Ketika ditemukan, Lian dalam kondisi linglung dicurigai akibat indoktrinasi aliran sesat, bahkan ia sudah merubah gaya berpakaiannya dengan mengenakan Jilbab Lebar dan bercadar.

Di balik kasus ini muncul kesan untuk memojokkan citra berbusana Muslimah dengan jilbab lebar dan bercadar. Tak hanya itu, Lian menyebut banyak pria berjenggot tebal diantara mereka yang mengindoktrinasinya.

Gerakan NII Palsu

Upaya mendiskreditkan misi NII yang diproklamirkan SM. Kartosuwiryo, 12 syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 M, telah dilakukan bukan saja oleh mereka yang memusuhinya. Tapi, yang lebih berbahaya justru munculnya gerakan sempalan NII, yang melakukan penyimpangan atas nama NII oleh orang yang malah mengaku sebagai penerus perjuangan NII. Salah satu upaya jahat itu dilakukan oleh Totok Abdussalam alias AS Panji Gumilang, pimpinan Ma’had Al-Zaytun, Inderamayu, Jawa Barat, di bawah payung gerakan NII KW 9.

Padahal, misi NII yang diperjuangkan SM. Kartosuwiryo dan NII KW 9 versi AS Panji Gumilang membawa misi kontradiktif, berbeda dalam tujuan, dan bertentangan secara aqidah. NII atau DII/TII Kartosuwiryo berjuang menegakkan Negara Islam Indonesia berdasarkan Quran dan Sunnah.

Sebaliknya, NII KW 9 yang dipimpin AS Panji Gumilang dengan Ma’had Al-Zaytun sebagai sentral aktivitasnya, melakukan penipuan, dan pemerasan atas nama NII. Pemahaman keagamaan, dan prilaku pengikutnya yang sama sekali tidak bisa dikategorikan Islami, adalah fakta kongkrit. Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Quran menggunakan metode safsathah, tafsir semau gue berdasarkan kepentingan hawa nafsu.

Karakteristi NII KW 9 versi Panji Gumilang dapat dilihat dari pemahaman keagamaan, dan perilaku pengikutnya:

Pertama, ingkar Sunnah: Pengajian-pengajian diselenggarakan sangat eksklusif dan tertutup. Materi awal tentang kebenaran Al-Quran, berikutnya akan selalu menggunakan Al-Quran sebagai rujukan, jarang sekali menggunakan hadits.
Alasannya, adanya perkataan Nabi Saw : “Inna khairul hadits kitaballah – sebaik-baik hadits adalah kitabullah.” Mereka menolak hadits dengan menggunakan dalil hadits. Dalam hal ini, NII KW 9 menggunakan kalimat yang benar untuk tujuan kebathilan, sebagaimana dikatakan Imam ‘Ali bin Abi Thalib, Kalimatu haqqin yuradu biha bathilun.”

Sedang Ustadz yang memberikan pengajian selalu menyembunyikan identitasnya, dengan alasan security (keamanan). Bukan itu saja, calon pengikut NII KW 9 diajak ke suatu tempat untuk dibai’at, selama dalam perjalanan matanya ditutup.

Mereka menafsirkan ayat-ayat Al-Quran semau gue, sesuai kepentingan hawa nafsunya. Penggunaan hujjah Al-Quran hanya sekedar alat legitimasi atas suatu pemahaman sesat. Misalnya, peristiwa Isra’ Mi’raj ketika Rasulullah Saw naik ke langit ke tujuh, mereka artikan sebagai tujuh tingkat struktur pemerintahan, yaitu RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, dan Presiden. Ibadah shalat dianggap bukan kewajiban setiap Muslim, karena belum futuh Makkah, padahal Al-Quran sudah turun 30 juz dan Rasulullah Saw sudah wafat.

Kedua, menghalalkan yang diharamkan Allah : Siapa saja di luar kelompoknya dianggap kafir, karena itu halal darahnya dan dan hartanya boleh dirampas, dengan menganggapnya sebagai harta rampasan (fa’i). Jama’ahnya diperas, dijadikan objek pengumpulan dana dengan alasan infaq dan shadaqah, sementara penggunaan dana yang terkumpul tidak transparan. Para anggota jama’ah yang tidak berinfaq dianggap berhutang. Karena itu mereka membolehkan pengikutnya untuk mencuri, merampok, berdusta atas nama agama demi memenuhi tuntunan bai’atnya.

Istilah NII hanyalah kedok, untuk memudahkan rekrutmen para aktivis Muslim, sementara di sisi lain mereka menghalalkan darah dan harta sesama Muslim diluar kelompoknya, persis perilaku dan pemahaman kaum komunis PKI.
Kelompok NII (Negara Intelijen Indonesia) KW 9 ini disinyalir banyak pengamat dan aktivis Muslim, sebagai pembawa misi terselubung untuk menghancurkan Islam dari dalam. Melakukan penyimpangan aqidah dan syari’ah dengan memakai label Islam, mengikuti pandangan Napoleon Bonaparte yang menyatakan : “Jika mau membunuh kuda, gunakan kuda.”

Gerakan NII KW 9, juga mengusung misi intelijen. Tujuannya membangun citra negatif bagi gerakan yang bertujuan menegakkan Syari’ah Islam secara kaffah, menakut-nakuti umat Islam. Labelisasi Islam terhadap perilaku dan pemahaman yang bertentangan dengan ajaran Islam, adalah di antara metode dakwah yang ditempuh NII KW 9 pimpinan Totok Salam alias AS Panji Gumilang. Pusat gerakan aliran sesat KW 9 di Ma’had Al-Zaytun (bukan Az-Zaytun), Haurgeulis, Kabupaten Inderamayu, Jawa Barat.

Jadi, Darul Islam atau NII pimpinan SM. Kartosuwiryo yang diproklamasikan 12 syawal 1368 H/ 7 Agustus 1949 M, hanya menjadi tameng gerakan KW 9 (Komandemen Wilayah 9), sama sekali tidak memiliki kaitan sejarah, baik secara harakiyah maupun ideologis dengan NII KW 9 pimpinan Totok Salam. Hal ini penting ditegaskan, agar masyarakat tidak keliru menilai, dan tidak rancu dalam memahami peran sentral Darul Islam dalam membangkitkan semangat jihad, untuk membasmi kebathilan.

NII bentukan intelijen ini sungguh jauh benar karakternya dengan NII yang semua dirintis Kartosoewirjo, Daud Beureuh. Upaya formalisasi syariat Islam di lembaga negara selalu dikaitkan dengan Negara Islam Indonesia (NII), karena dianggap memiliki benang merah dengan Darul Islam atau NII pimpinan SM. Kartosuwiryo.

Darul Islam, dipandang sebagai embrio atas suatu paham yang mengedepankan pentingnya melaksanakan Syari’at Islam secara sistemik, melalui jalur kekuasaan pemerintahan. Karena tanpa kekuasaan, Islam tidak akan bisa secara optimal melaksanakan misi Rahmatan Lil ‘Alamin.

Maka di zaman SM Kartosuwiryo, istilah NII bukan sekadar nama sebuah gerakan keagamaan, melainkan institusi Negara dengan konstitusi Islam yang memiliki kekuasaan berdaulat penuh. Memberi label NII pada aktivitas gerakan keagamaan, sangat riskan dari sudut pandang keamanan, juga dapat disalah gunakan sebagai alat penipuan secara ideologis.

Penolakan penggunaan nama NII terhadap aktivitas yang hanya sekadar gerakan, tanpa basis teritorial serta otoritas kekuasaan yang jelas, selain sebagai upaya mengamankan dan mengamalkan amanah perjuangan. Juga, meluruskan pemahaman yang keliru, memberi nama pada sesuatu yang bukan menjadi namanya. Menganggap gerakan sebagai Negara, koordinasi sebagai kekuasaan pemerintahan, sangat rentan terhadap penyusupan dan penyalahgunaan wewenang.

Negara Intelijen

Pada tanggal 27 Agustus 1999, masyarakat pergerakan Islam dikejutkan oleh sebuah pemberitaan berkenaan dengan diresmikannya sebuah pesantren oleh Presiden B.J. Habibie, di Indramayu (Jawa Barat). Pesantren termegah di Asia Tenggara itu bernama Ma’had Al-Zaytun, yang dipimpin oleh Syaikh Al-Ma’had AS Panji Gumilang.

Yang membuat kalangan pergerakan terkejut bukanlah semata-mata karena kemegahan pesantren yang berdiri di tengah-tengah kemiskinan rakyat sekitarnya, tetapi terutama karena sosok yang bernama AS Panji Gumilang, yang tak lain adalah Abu Toto, alias Toto Salam.

Pada tanggal 14 Mei 2003 Jenderal AM Hendropriyono (dalam kapasitasnya sebagai Kepala BIN), atas nama Presiden RI (waktu itu) Megawati, memenuhi undangan Panji Gumilang untuk menancapkan patok pertama bangunan gedung pembelajaran yang diberi nama Gedung Doktor Insinyur Haji Ahmad Soekarno. Kehadiran Jenderal Hendropriyono ketika itu diikuti hampir seluruh pejabat tinggi BIN.

Pada Pemilu Legislatif 5 April 2004, terdapat sekitar 11.563 pemilih yang tersebar di 39 TPS Khusus Al-Zaytun, hampir seluruhnya (92,84 persen) diberikan kepada Partai Karya Peduli Bangsa (PKPB) pimpinan Jenderal Purn. Hartono dan Siti Hardiyanti Rukmana (Mbak Tutut—putri Soeharto). Selebihnya (618 suara) diberikan kepada Partai Golkar.

Tanggal 5 Juli 2004, masyarakat kembali dikejutkan oleh pemberitaan seputar Pemilihan Presiden, yaitu ketika Al-Zaytun berubah sementara menjadi ‘TPS Khusus’ yang menampung puluhan ribu suara (24.878 jiwa) untuk mendukung calon presiden Jenderal Wiranto. Ketika itu, puluhan armada TNIAD hilir-mudik mengangkut ribuan orang dari luar Indramayu yang akan memberikan suaranya di TPS tersebut. Dalam perkembangannya, hasil dari TPS Khusus ini dianulir.

Sebelum kasus penimbunan senjata oleh Brigjen Koesmayadi diungkap oleh KSAD Jenderal TNI Djoko Santoso (yakni pada 29 Juni 2006), beberapa tahun sebelumnya sejumlah aktivis Islam pernah melaporkan kepada aparat kepolisian tentang adanya timbunan senjata di Al-Zaytun, pada sebuah tempat yang dinamakan Bunker.

Laporan itu baru ditindak-lanjuti aparat kepolisian beberapa bulan kemudian, setelah ratusan senjata itu dipindahkan ke tempat lain, dan bunker tempat penyimpanan senjata sudah berubah fungsi. Senjata-senjata itu milik seorang jenderal aktif yang sangat berpengaruh pada masanya.

Dari rentetan fakta di atas, tampaknya sulit untuk mencegah bila ada yang menyimpukan bahwa Toto Salam alias Abu Toto adalah sosok yang disusupkan ke dalam gerakan Islam, dengan proyek mercusuarnya berupa Ma’had Al-Zaytun.

http://arrahmah.com/read/2011/05/01/12168-negara-intel-indonesia-nii-kw-9.html

Tuesday, April 26, 2011

Muhammad Al-Fatih : Tokoh Yang Digerus oleh Mitos Dracula


Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II



Bila di dalam sebuah ruang kelas seorang guru sejarah bertanya siapa yang tahu Muhammad Al-Fatihatau Muhammad II atau di barat lebih di kenal dengan Mehmed II ? Bisa dipastikan tidak ada yang mengangkat tangan. Tetapi bila sang guru bertanya siapa yang tahu Dracula ? Bisa dipastikan sebagian besar murid pasti akan mengacungkan tangan untuk berebut menjawab. Itulah ironi yang terjadi, bahwa generasi muda kita lebih mengenal superhero rekaan Barat dibandingkan pahlawaan yang sebenarnya.

Dunia memang sedang timpang, seperti aliran sungai, mengalir dari Barat menuju Timur. Semua yang berasal dari Barat mengalir deras, membanjiri dunia Timur-mulai cara berfikirnya sampai cara jalannya. Tak terasa kalau sebenarnya penjajahan itu masih terus berlanjut hingga hari ini.

Bentuk penjajahan dari zaman ke zaman memang berbeda, tapi caranya sama : lewat hutang atauperang. Ini yang terjadi sejak zaman perbudakan sampai zamn sekarang. Tengoklah hari ini, utang digelontorkan oleh Negara-negara Barat beserta kroni-kroninya, baik lewat IMF, Bank Dunia, maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan utang tersebut mereka menjerat Negara penerima utang yang ada di Asia, Afrika dan Amerika latin. Sudah banyak Negara yang menjadi korban penjajahan gaya baru ini. Sedangkan Negara-negara yang tidak bisa di ditundukkan dengan utang maka akan di tundukkan dengan perang. Sebagai alasan pemimpin mereka dituduh sebagi pelindung teroris, anti demokrasi, radikal atau komunis. Bentuk ini yang terjadi di Irak, Afghanistan dan Negara-negara di Amerika Latin.

Lantas apa hubugan semua itu dengan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II dan Dracula ?

Saat ini bentuk penjajahan tidak melulu ekonomi dan politik, tapi juga yang lainnya, salahsatunya adalah sejarah. Seharusnya sejarah merupakan air paling bening untuk melihat masa lalu. Akan tetapi, kini sejarah juga tidak lepas dari jerat penjajahan Barat. Mereka, yang mempunyai akses dari uang sampai senjata, informasi sampai teknologi, terus-menerus berusaha melakukan penjajahan sejarah. Mereka berusaha menyingkirkan sejarah versi lain untuk kemudian memaksakan sejarah versi mereka. Lihatlah bagaimana mereka membuat sejaraah tentang Iran, Irak dan Afghanistan, Venezuela danCubaKorea Utara dan Indonesia. Lihat juga bagaimana mereka membuat sejarah tentang   Fidel Castro, Hugo Chaves dan Mahmud Ahmadinejad. Mereka menuliskannya sebagai nasionalis radikal, komunis atau fundamentalis. Simak pula bagaimana mereka membuat sejarah tentang Perang Salib, Perang Pearl Harbour dan Perang Vietnam.

Bagi kita yang peka, maka penjajahan sejarah itu begitu nyata di depan mata. Namun bagi yang tak peka semua itu tak terasa, bahkan tidak tahu sama sekali.

Vlad Dracula

Kembali lagi ke Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II dan Dracula. Kedua-duanya merupakan tokoh sejarah, Muhammad Al-Fatih adalah penguasa Kesultanan Turki Ottoman kekhalifan umat Islam ketika itu dan Dracula adalah penguasa Wallachia, Eropa. Keduanya juga hidup pada era yang sama, yaitu pada periode akhir Perang Salib. Dan, keduanya pernah terlibat dalam pertempuran yang telah merenggut banyak korban jiwa. Akan tetapi, dalam sejarah yang kemudian berkembang masing-masing mempunyai nasib yang berbeda.

Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tetap tercatat sebagi tokoh sejarah. Tentu saja ia dikenal sebagai“Pembebas Konstantinopel”. Sedangkan Dracula berbeda nasibnya. Ia lebih dikenal sebagai “Vampire”daripada sebagai manusia sejarah. Seperti yang di kisahkan oleh Bram Stoker dalam novelnya yang berjudul Dracula.

Namun walaupun begitu ia bernasib lebih mujur karena namanya justru di kenal di seantero dunia. Dan, harus diakui ia telah berhasil menenggelamkan nama musuh bebuyutannya, Muhammad Al-Fatihatau Mehmed II.

Saat ini bahkan umat Islam sendiri akan lebih mengenal Dracula daripada Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Nama Dracula tetap menjadi buah bibir bahkan setelah kematianya pada tahun 1476 M. Awalnya ia menjadi pembicaraan di kalangan masyaraakat pedesaan di Transylvania, Rumania, dan kemudian berkembang ke seantero Eropa. Namun yang terkenal kemudian bukan kekejamannya sebagai pembantai 500.000 manusia, sebagian besar mati karena di sula. Tetapi ia lebih dikenal sebagai hantu jadi-jadian atau Vampire, yaitu manusia penghisap darah. Yang di angkat dan di populerkan oleh Bram Stoker dalam novelnya yang berjudul Dracula. Kisah inilah yang kemudian terus-menerus didaur ulang sehingga menutupi fakta sejarah yang sebenarnya dan bahkan sudah ribuan film tentang Dracula ini.



Usaha Barat untuk mengangkat pahlawan mereka Dracula, dan menenggelamkan musuh merekaMuhammad Al-Fatih atau Mehmed II bisa dinilai berhasil. Penenggelaman tersebut dengan menggunakan symbol salib dan bawang putih. Lewat symbol salib Barat sebagaimana di uraikanHyphatia Cneajna dalam bukunya “Dracula, Pembantai umat islam dalam perang salib” ingin menunjukkan superioritas mereka. Bahwa merekalah yang mampu membunuh Dracula dengan salib ; bahwa merekalah yang bisa mengusir setan yang haus darah dengan salib. Mereka ingin mengatakan kepada dunia bahwa, merekalah ksatria dengan tanda salib di dada yang telah menyelamatkan dunia dari terror Dracula. Dengan cara inilah secara perlahan namun pasti Barat bisa memasukkan ke dalam kesadaran generasi sekarang tentang sosok Dracula. Sehingga nama ini terus-menerus di kenang sepanjang massa, dari anak kecil sampai orang tua. Dan, tak disadari terutama oleh umat Islam sendiri, pahlawan mereka pelan-pelan telah di tenggelamkan dari pentas sejarah. Tak mengherankan memang kalau kemudian kita umat Islam tak mengenal siapa itu Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II.

Tabiat Barat tersebut hingga kini tak pernah berubah. Saat ini mereka datang laksana ksatria pembebas negeri ke Negara-negara yang kata mereka menjadi sarang teroris. Mereka datang dengan membawa slogan kosong bahwa dunia saat ini sedang terancam Dracula baru yang disebut teroris. Padahal, semua itu cuma kedok mereka untuk melakukan penjajahan gaya baru.

Memang beralasan kalau Barat berusaha menenggelamkan nama Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Selain menyangkut dendam lama dalam Perang Salib Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II merupakan tokoh yang mampu merebut benteng terbesar pasukan Romawi, Konstantinopel. Usaha untuk menenggelamkan nama Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II juga bertujuan agar umat Islam terutama generasi mudanya tidak mempunyai tokoh pujaan yang ideal.

Tentu saja jika generasi Islam saat ini meng-idola-kan tokoh seperti Salahuddin Al-Ayubi danMuhammad Al-Fatih atau Mehmed II, yang kedua-duanya begitu gigih membebaskan Islam dari dominasi Barat. Maka jika ini terjadi tentu saja Amerika Serikat akan terusir dari Afganistan, Pakistan, Irak, Arab Saudi, Mesir, dan Indonesia, karena generasi muda Islam akan bersatu dan menendangnya keluar. Begitu juga dengan Israel yang menurut John Parkins, Israel adalah infanteri Amerika Serikat di Timur Tengah akan terusir dari bumi Palestina, dan rakyat Palestina pun akan merdeka.

Tokoh seperti Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II memang teladan yang ideal bagi simbol perlawanan terhadap Barat. Ia selain di kenal ulung dalam strategi perang ia juga seorang pecinta ilmu pengetahuan. Semasa hidupnya beliau mengundang ilmuwan dari berbagai macam Negara dan agama untuk menerjemahkan segala macam buku ke dalam bahasa Turki. Tak mengherankan kalau perpustakaaan di Turki pada masanya menjadi salahsatu perpustakaan paling lengkap di dunia. Karya-karya YunaniMesir dan Arab terkumpul menjadi satu sehingga siapapun yang ingin belajar akan menemukan luasnya samudera ilmu pengetahuan.

Yang juga perlu di catat dari Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II adalah toleransinya. SebagaimanaSalahuddin Al-Ayubi yang membebaskan Palestina, ketika memasuki Konstantinopel Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tidak merusak satupun tempat ibadah agama Kristen maupun Yahudi. Semua tempat ibadah milik non Muslim tetap di biarkan berdiri dan umatnya beliau lindungi. Ini tidak hanya dilakukan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II ketika membebaskan Konstantinopel. Sewaktu membebaskan Bosnia hal serupa juga beliau lakukan.

Tiga sifat Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II Anti Barat, pecinta ilmu pengetahuan dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, tentu sifat yang ideal. Jika umat Islam meniru keteladannya maka tentu saja minyak yang ada di Arab Saudi, Mesir, Sudan, Aljazair, Maroko, Libya, Qatar, UEA, Bahrain, Yaman, Oman, Yordania, Syuriah, Libanon, Kuwait, Irak, Afganistan, Pakistandan negeri kita yang tercinta ini, tidak akan di kuras oleh Amerika Serikat, dan Negara tempat mereka berada akan menjadi Negara yang benar-benar merdeka.

Sayangnya pemimpin di Negara-negara Muslim tidak mempunyai watak dan sifat seperti Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Justru mereka menjual Negara mereka kepada Barat dan merendahkan harga diri mereka di hadapan Barat. Memberikan sumber daya alam yang sangat berharga, minyak, kepada tuan-tuan asing. Dan bahkan memfasilitasi Barat untuk membunuh saudara mereka. Lihatlah pembantaian di Gaza Palestina ini tidak terlepas dari andil Mesir yang tidak membuka perbatasan Rafahantara Mesir dan Palestina. Sungguh tragis memang. Dan juga masih ingat dalam memori kita bagaimana Arab Saudi dan Yordania memberikan fasilitas bandara mereka kepada Amerika Serikatuntuk membunuh saudara mereka di Irak. Ironi memang benar-benar Ironis.

Sementara generasi mudanya lebih memuja pahlawan-pahlawan ciptaaan Barat seperti Rambo, James bond, Hunter, Superman, Spiderman. Dan mencontoh tokoh-tokoh idola mereka seperti pemusik, bintang film holywood dan super model dari Barat. Hingga semua itu melenakan generasi Islam dan membawa mereka kepada penyembahan pada manusia dan berhala-berhala materi dan memper-tuhan-kan mode. Bahkan ada semacam kesimpulan bahwa jika seseorang tidak meniru gaya hidup barat atau tidak meng-idola-kan tokoh musik, bintang film dan super model barat ,adalah kuno aliastidak modern. Sebegitukah ??

Memang tidak mudah melepaskan diri dari dominasi Barat. Jerat-jerat itu memang begitu kuat mengikat kesadaran manusia. Walaupun begitu bukan berarti kita harus menyerah. Tentu pasti ada jalan keluarnya. Disamping kita kembali kepada sumber hidup umat Islam Qur’an dan Hadits, salahsatunya juga adalah kritis terhadap sejarah. Mengapa? Karena kekritisan terhadap sejarah akan membuat seseorang tidak mudah di perdaya, karena mengetahui peristiwa sebenarnya. Dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda media-media Barat, karena kita tahu hal sebenarnya yang terjadi.

Wallahu ‘a’lam bisawwab

Disarikan dari buku : “Sultan Mehmed II Sang Pembantai Dracula” karya Orhan Basarab.

Wednesday, February 23, 2011

Sayyid Quthb : Kita Di Simpang Jalan


Sayyid Quthb. Beberapa pergerakan mengacu pada pemikirannya meski tak sepenuhnya sinkron. Seorang ulama dunia, luar biasa. Apalagi yang bisa kuungkapkan?
Lalu kucoba menyelami pemikirannya lewat tulisan-tulisan yang dibuatnya saat di kurungan. Penjara. Ya Allah…10 halaman saja, terasa berat. Tapi mengapa orang-orang begitu mudah ‘membaca’nya? Kucoba menelan setiap kalimatnya, kucoba memposisikan diri seperti beliau…lelah. Seperti tidak mendapati lagi perjuangan yang beliau dan muslim dunia segenerasinya lagi, perjuangan layaknya rasulullah berjuang. Perjuangan, dengan keyakinan dan gelora seperti….ini.
————————————————————————————————
DI SIMPANG JALAN

Sebuah pesan dari sedikit bagian ujung salah satu bukunya, Keadilan Sosial dalam Islam, terbitan Penerbit Pustaka tahun 1984, setelah uraian panjangnya tentang “keadilan social” yang mengganggu “keseimbangan alam”, memeperbaiki satu hal namun merusak banyak hal lain, tatanan dunia yang rusak.
Kini, kemana lagi kita menangkah?
Kita mesti berhenti sejenak untuk menanya diri kita dengan pertanyaan ini, agar kita dapat mengarahkan kehidupan kita sesuai dengan arah yang kita inginkan.
Dunia kita ini setelah mengalami dua perang dunia secara berturut-turut, terbagi dalam dua kutub : Kutub komunis di timur, dan kutub kapitalis di Barat (saat itu—red). Itulah yang terlihat pada lahirnya dan yang dapat diucapkan serta diakui dalam hati. Namun, kita meyakini bahwa perpecahan ini hanyalah sekedar bentuk luarnya semata dan bukan suatu hakikat; ia sekadar perpecahan yang didasarkan atas kepentingandan bukan atas prinsipia hanyalah pertempuran senjata dan perebutan ’pasar’, bukan perpecahan akidah dan konsepsi. Watak pola berpikir Eropa-Amerika dalam kenyataannya sama sekali tidak berbeda dengan pola berpikir Rusia. Kedua-duanya ditegakkan atas kekuasaan konsep materialisme dalam kehidupan ini. Dan apabila Rusia telah menjelma menjadi komunis, maka Eropa-Amerika sedang berada di tengah jalan menuju kesana, yang pada akhirnya akan sampai pula pada satu ujung yangbukan sama sekali tidak terbayangkan.
Tiada lain yang ada di belakang konsep materialisme yang kini sedang ditempuh barat, yang mengantarkan pada perebutan pasar dan kepentingan, yang mencampakkan keimanan dan mengingkari hakikat sesuatu ini selain sekedar fungsinya saja –seperti yabf dilakukan oleh pragmatisme—kecuali konsep komunis apabila suatu saat terjadi perubahan kondisi ekonomi di barat.
Sama sekali tidak terdapat perbedaan dalam watak konsep Amerika dan Rusia, yang ada hanyalah perbedaan tujuan ekonomis dan sosial. Yang menjadi pegangan kebanyakan orang Amerika adalah komunisme dan bukan konsep tentang kehidupan, yang bersumber interpretasi materialisme tentang alam, kehidupan dan sejarah, bahkan kesempatan memang terbuka di hadapan mereka bagi terciptanya suatu kelas kepitalis dan upah para pekerja pun terus membumbung tinggi seperti itu pula. Dan bila kapitalisme sudah mencapai puncaknya di Amerika, maka berhentilah peranan kaum monopolis, dan kebanyakan dari mereka akan merasa bahwa situasinya belum siap untuk menjadikan mereka sebagai kaum kapitalis, dan upah pun akan merosot disebabkan terhentinya kegiatan monopoli atau oleh sebab-sebab lain; dan kalau sudah demikian kaun pekerja amerika akan mengarah pada komunisme, sebab saat ini tidak ada yang membimbing mereka berupa pemikiran yang lebih tinggi dari materialisme maupun akidah priritual dan moral yang tinggi.
Oleh karenanya janganlah kita terkecoh untuk mengatakan bahwa akan terjadi benturan antara barat dan timur baik dalam skala kecil maupun besar : karena kedua-duanya tidak memiliki konsep apapun selain pandangan materialistis tentang arti kehidupan; watak kedua konsep itu memang mirip satu sama lain dan keduanya tidak akan bertentangan dalam masalah prinsip dan ideoliginya. Mereka hanya berebut kekayaan dan menguasai ’pasaran’! dan kitalah ’pasaran’ yang mereka perebutkan itu!!!
Adapun pertentang yang hakiki adalah pertentangan antara Islam melawan kedua kutub tersebut, Timur dan Barat sekaligus. Islam adalah kekuatan sejati yang menentang kekuatan materialisme yang dijadikan agama (din; aturan hidup) oleh orang-orang Eropa, Amerika dan Rusia (dan saat ini di seluruh dunia-red) tanpa ada bedanya sedikitpun. Islam memberi jaminan konsepsi yang seimbangtentang alam, kehidupan, dan manusia, dan menggantikan benturan-benturan serta antagonisme itu dengan solidaritas sosial, lalu menciptakan kehidupan spiritual yang bersambung dengan Sang Maha Pencipta dan mengatur arahnya di dunia ini. Ia tidak sekedar berhenti pada realisasi pemilihan kekayaan semata-mata,betapapun berusaha mencari kekayaan itu dianggap pula sebagai salah satu bentuk ibadah dalam islam.
Hakekatnya adalah bahwa agama-agama spiritual—dengan kristen pada barisan paling depan—menolak materialisme. Eropa-amerika, seperti halnya ia juga menolak komunisme Rusia, karena keduanya memiliki watak yang sama dan bertentangan dengan ide spiritual dalam kehidupan. Akan tetapi agama kristen –seperti yang saya lihat—tidak memiliki kekuatan positif dalam menghadapi pemikiran-pemikiran materialisme modern. Kristen adalah agama yang mengisolir diri dan pasif; ia tidak memiliki kekuatan untuk menumbuhkan kehidupan di bawah naungannya secara kontinu. Agama ini melaksanakan tugasnya hanya dalam lapangan-lapangan yang amat terbatas dari kehidupan manusia, sesudah itu ia tidak memiliki kemampuan apapun untuk mendorong kehidupan praktis dalam berbagai seginya. Bisa dimaklumi, karena agama ini hanya bersifat temporal yang terbatas untuk masa antara yahudi dan Islam. Maka ketika orang-orang Eropa memegangnya dalam menghadapi kondisi-kondisi historis tertentu, lemahnya agama ini dalam menghadapi perkembangan kehidupan yang terus-menerus berkembang, lalu ia mengisolasi diri dalam tembok-tembok gereja dan hati sanubari individu serta tidak melibatkan diri dalam kehidupan nyata, karena ia memang tidak memiliki kekuatan bersaing, berkembang, dan tumbuh.
Agama kristen, tak ayal lagi, tidak mampu menyertai sistem sosial-ekonomi yang berkembang tanpa henti, karena pada intinya ia tidak memiliki konsep yang jelas tentang kehidupandan kenyataan praktik hidup sehari-hari. Akan halnya islam, ia merupakan satu sistem universal yang lengkap. Di dalamnya terdapat sistem kepercayaan, syari’at, dan sistem sosial ekonomi yang ditundukkan melalui kesadaran hati nurani dan syari’at, yang menerima pertumbuhan dalam berbagai cabang dan bentukan-bentukan lainnya.
Islam menawarkan konsep yang lengkap-sempurna tentang alam, kehidupan dan manusia kepada seluruh umat manusia, yang mampu memenuhi segala kebutuhan konseptual. Ia menawarkan pula kepada umat manusia akidah yang kokoh-kuat dan tegas yang dapat memenuhi kebutuhan jiwa. Ia menawarkan kepada masyarakat asas perundang-undangan dan ekonomi yang mampu memenuhi kebutuhan praktis dan sistematis.
Islam menegakkan sistemnya atas asas ide spiritual tentang kehidupan yang bertentangan dengan pemikiran materialistis, dan membentangkan jalan yang diletakan atas asas unsur spiritual dan moral yang menolak ide : pragmatis yang dangkal. Oleh sebab itulah, secara nyata ia berbenturan dengan ideologi materialis yang berlaku di kedua kutub dunia—Timur dan Barat (maupun apapun yang berada diantara keduanya—red). Ia mengangkat kehidupan pada derajat yang lebih tinggi dari wawasan-wawasan sekular yang diagung-agungkan oleh Eropa, Amerika, dan juga Rusia (juga, saat ini, seluruh dunia, dan…kita—red).
* * *
Melalui uraian sepintas ini, jelaslah sudah bahwa kita yang berada di dunia islam amat membutuhkan rujukan bagi sikap kita seluruhnya. Tentang kehidupan, kita memiliki konsep universal dan terpadu yang jauh lebih tinggi dari pemikiran manapunyang dimiliki selurug dunia saat ini. Kita punya hal untuk mengemukakan ide-ide yang bertujuan menciptakan tolong-menolong kemanusiaan yang sempurna, toleransi sosial yang benar, dan bertujuan mengangkat nilai-nilai kehidupan yang bersumber dari Allah Swt! Jadi dengan demikian, posisi kita bukanlah menjadi pengikut kekuatan manapun, melainkan harus memegang kendali pimpinan!
Akan tetapi kita tidak dapat dengan mudah sampai pada posisi yang kita inginkan itu kecuali harus melalui pengorbanan demi kebaikan kita sendiri dan kebaikan seluruh umat manusia. Banyak beban yang mesti dipikul oleh kaum pemilik modal dan kelompok hartawan, akan tetapi pengorbanan dan beban itu tidak boleh tidak harus dipikul. Kita bisa memilih jalan Islam atau komunis tanpa ada alternatif lain menuju akhir. Eropa dan Amerika—dan kita—telah memilih jalannya sendiri dengan mengabaikan sistem Islam kita, dan keduanya, cepat atau lambat, akan menjelma menjadi komunis berdasar bahwa watak pola berpikir keduanya adalah sama; idenya tentang makna kehidupan ini adalah materialisme. Perbedaannya hanyalah di arus permukaan dan bukan dalam segi hakekatnya!
Para pemilik modal dan kaum hartawan pasti mengetahui apa yang diinginkan oleh komunisme, dan mereka pasti akan menghindari nama ini laksana orang primitif yang mendengar nama jindan setan!!  Oleh sebab itu hendaknya mereka menyadari bahwa tidak ada lagi yang bisa melindungi mereka dan menyelamatkan seluruh umat manusia ini kecuali Islam, yaitu din islam yang hakiki dan benar yang kami kemukakan beberapa diantara prinsipnya berikut contoh-contoh sistem dan jaminannya terhadap hati nurani dan harta kekayaan.
Sungguh, kita saat ini sedang berada di persimpangan jalan. Kita bisa menempatkan diri kita sebagai pengikut blok Barat yang menamakan dirinya kaumdemokratis!atau kembali kepada din kita—Islam, berhukum kepadanya dalam seluruh aspek kehidupan kita, spiritual, ideologi, sosial-ekonomi; berpegang dengan kuat kepada ajarannya, lalu menumbuhkan berbagai cabang kehidupan dalam batas-batas konsepnya yang sempurna dan terpadu, dan selanjutnya melaksanakan kewajiban-kewajiban yang diberikannya dalam hati sanubari maupun harta kekayaan kita.
Sungguh, kalau kita tidak lakukan semua itu sekarang, kita pasti tidak lagi dapat melakukannya pada masa-masa yang akan datang, sebab dunia yang sudah terkoyak-koyak oleh dua pernag yang berturut-turut itu, yang sudah ambruk akidahnya dan resah jiwanya serta terus menerus berada dalam pertentangan ideologi ini, betul-betul amat membutuhkan kita untuk memberikan akidah , sistem, dan konsep hidup Islam kita yang praktis dan religius ini. Kita tidak mungkin dapat memberikan hal itu sepanjang kita belum mampu membuktikannya dalam kehidupan kita sendiri sehingga seluruh dunia menyaksikannya sebagai suatu kenyataan yang hidup di dunia danbukan sebagai impian dan angan-angan kosong di alam utopia!
Kembali kepada Islam bukan berarti memberi kita semata-mata keadilan sosial dalam kehidupan kita dengan mengabaikan ketentraman dan kekokohan jiwa yang sedang kacau dan tidak memiliki prinsip dan tujuan hidup.
Akan tetapi dengan cara seperti ini ia akan memberikan keadilan sosial dari dalam dan pembentukan kondisi dari luar dan watak yang mandiri di dalam kehidupan bernegara yang akan menghadapi dua kekuatan dunia yang saling bertentangan, lalu menciptakan keseimbangan politik kenegaraan bagi kedua kekuatan raksasa itu.
Bahkan ia pun memberikan kepada seluruh dunia Islam dan membuka kesempatan untuk menciptakan keamanan dengan meningkatkan ketegangan yang akan mendorong pecahnya perang dunia yang baru, sehingga dengan demikian muncullah kekuatan ketiga yang mempunyai konsep tersendiri tentang arti kehidupan dan memiliki watak yang berbeda baik dengan pandangan Barat maupun Timur. Munculnya kekuatan ketiga diantara dua kekuatan yang telah ada inilah satu-ratunya cara terakhir untuk merealisasi keseimbangan internasional di dunia yang selalu diporak-porandakan oleh kedua kekuatan raksasa itu.
Dan kondisi yang ada sekarang ini sudah siap untuk itu dengan munculnya dua kekuatan besar Islam, Indonesia dan Pakistan serta dengan adanya kebangkitan dunia islam lainnya –baik di barat maupun di Timur.
Kepada Allah jualah kita tujukan semua amal ini
Dan kewajiban kita tiada lain berpegang kepada ajaranNya dan beriman sepenuhnya.
————————————————————————————————
SARA?????? Buang jauh-jauh dulu aturan itu. Kondisi dunia saat ini sudah sangat terkoyak-koyak untuk dijahit dengan sebuah benang tipis bernama SARA. Kondisi masyarakat Dunia yang terus berubah dan dinamis bukan alasan untuk tidak menciptakan tatanan dunia yang stabil dan selamat di hadapan Allah.
Pertanyaan-pertanyaan selanjutnya yang mungkin muncul adalah :
  1. bagaimana materialisme mewujud dalam ideologi barat dan timur, serta ideologi yang berada diantara keduanya (liberalisme/kapitalisme, sosialis/komunisme, dan demokrasi), yang sangat jelas bertentangan dengan Islam? Dan bagaimana kita harus memilih?
  2. Bagaimana kita mengikuti jalan Rasulullah menghadapi dua kekuatan ini, seperti layaknya beliau menghadapi kekuatan Romawi dan Persia? Bagaimana cara beliau meraih posisi islam sebagai pemimpin, saat makkah saat itu memang tidak mengkikuti Persia maupun Romawi, namun bukan islam?
  3. bagaimana kontribusi real kita dalam mewujudkan tatanan dunia yang seimbang dan stabil, yang bukan sekedar utopia?!!!
  4. ah…dan lain-lain deh.
Satu hal yang menggelitik, As-syahid Sayyid Quthb menganggap Indonesia sebagai kekuatan besar Islam, tapi pada faktanya, Indonesia pun materialistis. Hakikat hidup hanyalah materi. Jika bukan seperti itu, tidak akan ada carut marut negeri ini. Negeri ini sakit parah, kawan. Kau pun melihatnya.
Karena kita semua akan mati. Apa yang akan kita jawab nanti?
Terbersit mengiringi satu pertanyaan nyelekit,, ”Kenapa Islam Harus Ditegakkan?”