Tuesday, April 7, 2015

Turun atau Naik: Lagi-Lagi Soal Pilihan

"Mudun nyiksa tuur, nanjak nyiksa napas."
(Turun menyiksa lutut, naik menyiksa napas).
Kalimat ini muncul begitu saja saat naik turun tangga menuju dan dari Curug Malela, Bandung Barat, Juni 2 tahun lalu. Sebuah iklan produk susu ternama yang menggambarkan berapa banyak beban yang disangga oleh sendi dan tulang ketika naik atau turun tangga. Dari situ saya tahu, ternyata berjalan di jalanan menurun memang terasa mudah, tapi justru sendi menyangga beban hampir 2x lipat dibandingkan saat berjalan menanjak.
Perjalanan ke Curug Malela mungkin tidak seberapa dibandingkan treking ke puncak-puncak gunung, tetapi jalan setapak yang licin menujunya lumayan jauh dari jalan 'utama' dan dengan kemiringan yang lumayan pula. Jalanan menuju lokasinya menurun tajam dan jalanan pulang dari lokasi pun otomatis menanjak tajam.
Saat menuju ke sana, jalanan menurun, tapi tetap tidak mudah dilalui. Licin, berbatu. Rasanya sudah lama turun, tapi turunan tak-habis-habis. Tidak terasa sesak karena lelah, tapi lutut bergetar.
Saat pulang dari sana, jalanan menanjak. Kaki terasa sakit, padahal beban tidak terlalu berat. Yang paling menyiksa adalah napas yang larinya entah kemana. Lelah.
DSC02336
***
Overall, perjalanan ini asik-asik aja.
***
Soal derita turun dan naik, mungkin iman pun begitu.
Saat berusaha naik, pengorbanan yang dibutuhkan bukan alakadarnya. Tidak serta-merta iman datang tanpa usaha meyakini hal-hal di luar jangkauan nalar kita. Menemukan dan mempertahankan iman yang enam (pada Allah, Malaikat, Rasul, Kitab, Hari Akhir, dan Takdir) sungguh membutuhkan energi yang LUAR BIASA.
Di level terendah, mungkin contohnya shalat subuh. Mengaku-lah, berat, bukan? Berat juga untuk tidak tidur lagi. Shalat tahajud juga mungkin selevel, sama beratnya.
Dalam sebuah hadist (lupa nama periwayatnya), manusia dibelenggu oleh 3 belenggu. Belenggu pertama lepas ketika ia bangun dari tidur di sepertiga malam. Belenggu kedua lepas ketika ia berwudhu. Belenggu terakhir terlepas ketika ia melaksanakan tahajud.
Level selanjutnya mungkin contohnya menjaga tilawah, konsisten bershadaqoh, mencari ilmu, menerapkan ilmu, menyebarkan ilmu, silaturahim, menahan amarah, menjaga hubungan saudara dan teman, dll. Manusia hari ini begitu senang hidup 'sendirian'. Mudah berbagi kesulitan, tapi sulit berbagi kemudahan. Satu hal yang sering dilupakan, bahwa sebagaimana ilmu yang semakin ditebar semakin bertambah, rezeki pun begitu.
Ya, level selanjutnya lagi mungkin keyakinan terhadap janji-janji Allah. Seberapa yakin diri kita, bahwa Allah akan menggantikan hal-hal yang kita cintai yang kita korbankan demi membuktikan cinta padaNya dengan sesuatu yang jauuuuuh lebih besar?
Sungguh, kita mampu korbankan harta, korbankan tenaga, korbankan waktu untuk hal yang kita senangi dan cintai, untuk perjuangan fii sabilillah.
Allah meminta kita memurnikan ketaatan, maka kita mampu mengabaikan kecintaan terhadap tuhan-tuhan lainnya (contoh: harta, tahta, wanita).
Allah meminta kita memperjuangkan keyakinan dan jalan hidup, maka sesungguhnya kita mampu menahan bara api ini di tangan kita.
Allah meminta kita meninggikan kekuasaanNya di atas kekuasaan lain di dunia, maka sesungguhnya kita MAMPU.
Hanya, sejauh mana kita mampu menahan perihnya siksaan napas saat menanjak?
Sesungguhnya, tidak ada pilihan lain bagi kita, sebab jalanan menurun pun sama menyiksanya.
Lagi-lagi, ini soal pilihan.
DSC02346
Bandung, 26 Maret 2015, 11.37
Kontemplasi (lagi)

Akhir bagi yang Ma'ruf, yang Munkar, dan yang Diam

Banyak dari kita merasa marah ketika menyaksikan kemungkaran atau orang-orang yang berbuat mungkar.
Tapi, pernahkah terbesit dalam pikiran, mengapa kita tidak merasa sesak menyaksikan mereka yang terdiam, tidak berbuat apa-apa terhadap itu?
Atau bahkan diri kita yang juga tidak berbuat apa-apa? Terus bergelut dengan urusan diri (harta, penghasilan, dan penghidupan), diri (tahta, kedudukan, karir, jabatan), dan diri (pasangan).
Sesungguhnya akhir itu hanya ada dua. Jika SURGA adalah balasan bagi mereka yang beramar ma'ruf nahi munkar, jika NERAKA adalah balasan bagi mereka yang amar munkar nahi ma'ruf, sebelah mana bagian akhir dari mereka yang DIAM?
Introspeksi diri, 111214, 19.49
Hana Muwahhida

Luka, Nanah, dan Yang Tidak Menyenangkan

Bahwa NANAH hanya akan ada jika ada LUKA.
Sebagian yang melihatnya akan jijik dan memaki.
***
Jika NANAH dijadikan perumpamaan perilaku yang di luar ekspektasi, sepertinya pas, sebab respon dari perilaku ini sebagian besar adalah keluhan dan kekecewaan, bahkan makian.
Berapa banyak dari kita yang melihat LUKA yang menyebabkan NANAH tersebut?
***
Setidaknya jika kita tahu ada LUKA di baliknya, kita tidak akan memperparahnya dengan makian. Syukur, jika kita menepis rasa jijik dan mulai membersihkan NANAHnya, mengobati LUKAnya.
***
Ya, 'dakwah' itu sepertinya begitu.
Maka, pantas saja tidak pernah sekalipun dalam sejarah tercatat Rasulullah memaki dan membenci.
***
broken-heart-cuma1
Kontemplasi (lagi).
Bandung, 011114, 08.48
Hana Muwahhida

Inspirasi dan Inspirator

motivasi-kerja
Inspirator tidak-sama-dengan:
  • Setiap tulisan di-copas banyak orang
  • Didengarkan dan dipuja banyak orang
  • Diikuti setiap gerak-gerik dan tingkah lakunya
  • Hobinya jadi hobi semua orang, kesukaan dan kebenciannya jadi kesukaan dan kebencian semua orang
  • Atau APA PUN bentuk fans-isasi
Inspirator = Menularkan pada orang lain cara menjalani hidup.... apa pun jalannya, apa pun bentuknya.
***
Therefore, inspirator bukan cuma Mario Teguh atau Darwis Tere Liye.
Ibu kita adalah inspirator, ayah kita juga inspirator, guru juga inspirator, pemulung, marbot, juga bisa jadi inspirator. Peminta juga inspirator bagi sesama peminta.
Pengecut juga inspirator bagi sesama pengecut. Pejuang juga inspirator bagi yang ingin menjadi pejuang.
***
Bisa jadi, KAU juga inspirator, jika kau punya satu prinsip yang ajeg dalam menjalani hidup, lalu orang lain mengikuti caramu menjalani hidup, mengikuti caramu berpikir... terlepas dia nge-fans padamu atau tidak.
Kemungkinannya hanya ada dua: Inspirator yang membenahi atau inspirator yang merusak.
***
Dan kalau kau mulai berpikir apa yang ku pikirkan ini, berarti saya juga inspirator... hehehe ^^ (Semoga menjadi yang membenahi)
***
Men-shalih (terus mengadakan perbaikan)-kan diri, menshalihkan sekitar.
images (1)
(Kontemplasi akhir Februari, Hana Muwahhida)

Mari, Ikhlas

Beberapa orang bilang, "Terus aja ngurusin urusan orang, ari diri sendiri gak keurus. Terlalu mudah dimanfaatkan kamu, mah,"
Ungkapan ini malah terdengar seperti: "Andai membantu memudahkan orang lain itu dibayar dan menjadikan kaya raya,"
***
Dengan ini, malah menjadi seperti meminta pada Allah, menggantikan 1000 balasan dengan 1 saja.
***
Bahwa, setiap amalan selalu berbalas jauh lebih besar dari yang dikeluarkan dan diberikan. Meski tidak saat itu juga, dan malah tidak disadari.
Mari, ikhlas.
ikhlas

Domba dan Kecintaan

Dan benar, syariat qurban itu kalau kata orang sunda mah lain ku domba-domba na teuing (bukan karena dombanya banget).
Ketika Habil memilih ternaknya yang paling baik untuk dikurbankan, bukan karena gemuk dan mulus nya teuing, tapi karena itu adalah ternaknya yang paling ia cintai dan banggakan.
Ketika Ibrahim as diminta berkurban, yang dimintai adalah Ismail as, anak yang diharapkan selama puluhan tahun, yang paling ia cintai dan banggakan.
Lalu, apakah saat ini kita mencintai dan membanggakan domba dan sapi yang akan kita kurbankan??
Bukan. Bukan ku domba-dombana teuing. Kita mencintai harta yang harus kita keluarkan demi menjalankan syariat qurban.
Sampai pada titik keikhlasan kita diuji, "Ih, gening mahal tapi leutik? Daripada kurban embe kecil, mending ga usah," dengan dalil bahwa qurban haruslah yang tergemuk dan mulus.
Atuh, kasihan sekali mereka yang dananya hanya cukup untuk membeli hewan yang hanya mepet persyaratan kurban. Apakah tidak akan diterima?
Maka, ya. Yang kita qurbankan bukan domba-dombana teuing, tapi berapa banyak kita mengurbankan sesuatu yang paling kita cintai (bisa jadi, uang), untuk membuktikan bahwa kita lebih mencintai Allah dibandingkan itu semua.
Wallahu'alam bishshawab.
images
Kontemplasi Dzulqaidah, H-20 Momen Pembuktian Cinta
Bandung, 15 September 2014, 13.40, Hana Muwahhida

Menyoal Jama'ah

"Syaithan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawannya." (HR Ahmad)
Jamaah membuat seseorang selalu mendapatkan aktivitas yang selalu baru. Tanpa jamaah, seseorang dapat terperosok kepada kebosanan.
"Sekeruh-keruhnya hidup berjamaah, lebih baik dari bergemingnya hidup sendiri." (Ali bin abi Thalib)
Maka jika fitrah manusia adalah islam, fitrah islam adalah jamaah.
"Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya." (HR Muslim)
jamaah

Potensi Gagap

Ya, gagap itu hasil dari komunikasi timpang.
Tapi, dari komunikasi timpang pula terbentuk pribadi-pribadi unik yang mampu mendengar dan mengobservasi lebih dalam dari yang lainnya. Mudah memahami karena terbiasa mendengar dan melihar, bukan didengar dan dilihat.
Bukankah ini juga potensi?
***
Respon positif itu begini, bukan?
***
Jiwa setiap orang dipahat dari luka, kemudian dapat disambungkan layaknya puzzle dengan jiwa-jiwa lain dengan pahatan luka yang sepadan.
Sinergi itu begini, bukan?
***
gagap
Krisis nilai (harga) diri, 
Bandung, 020214, 01.03
Hana Muwahhida

Munafik

munafik
Bagaimana Rasulullah saw mengetahui seseorang berstatus munafik? Tentu saja, dari wahyu dan petunjuk.
Lalu, apakah Rasulullah mengumumkannya kepada para sahabat, "Si Fulan munafik,"? Tidak.
Lalu, bagaimana sirah mencatat contoh-contoh tokoh pada masa itu yang di-cap munafik sebagai pelajaran? Sahabat-sahabat menyaksikan Rasulullah saw tidak menyolatkan jenazahnya.
***
Maka, menjadi ironi ketika dengan ringannya kata-kata "muna", bahkan tak-jarang "kafir", keluar dari mulut anak-anak hingga anak-tua saat ini.
Hati-hati.
***
Dan, tahukah, orang seperti apa yang saat ini sering di-cap "muna"?
Mereka yang ingin menyembah Allah swt secara totalitas dan menafikan egonya.
Orang-orang bilang mereka munafik, pura-pura, pencitraan.
Padahal, mereka hanya berusaha tidak pura-pura tidak tahu siapa yang menciptakannya.
***
Segini dulu saja, deh.
Kontemplasi Akhir November, 241114, 13.13
Hana Muwahhida