Tuesday, April 26, 2011

Muhammad Al-Fatih : Tokoh Yang Digerus oleh Mitos Dracula


Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II



Bila di dalam sebuah ruang kelas seorang guru sejarah bertanya siapa yang tahu Muhammad Al-Fatihatau Muhammad II atau di barat lebih di kenal dengan Mehmed II ? Bisa dipastikan tidak ada yang mengangkat tangan. Tetapi bila sang guru bertanya siapa yang tahu Dracula ? Bisa dipastikan sebagian besar murid pasti akan mengacungkan tangan untuk berebut menjawab. Itulah ironi yang terjadi, bahwa generasi muda kita lebih mengenal superhero rekaan Barat dibandingkan pahlawaan yang sebenarnya.

Dunia memang sedang timpang, seperti aliran sungai, mengalir dari Barat menuju Timur. Semua yang berasal dari Barat mengalir deras, membanjiri dunia Timur-mulai cara berfikirnya sampai cara jalannya. Tak terasa kalau sebenarnya penjajahan itu masih terus berlanjut hingga hari ini.

Bentuk penjajahan dari zaman ke zaman memang berbeda, tapi caranya sama : lewat hutang atauperang. Ini yang terjadi sejak zaman perbudakan sampai zamn sekarang. Tengoklah hari ini, utang digelontorkan oleh Negara-negara Barat beserta kroni-kroninya, baik lewat IMF, Bank Dunia, maupun lembaga keuangan lainnya. Dengan utang tersebut mereka menjerat Negara penerima utang yang ada di Asia, Afrika dan Amerika latin. Sudah banyak Negara yang menjadi korban penjajahan gaya baru ini. Sedangkan Negara-negara yang tidak bisa di ditundukkan dengan utang maka akan di tundukkan dengan perang. Sebagai alasan pemimpin mereka dituduh sebagi pelindung teroris, anti demokrasi, radikal atau komunis. Bentuk ini yang terjadi di Irak, Afghanistan dan Negara-negara di Amerika Latin.

Lantas apa hubugan semua itu dengan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II dan Dracula ?

Saat ini bentuk penjajahan tidak melulu ekonomi dan politik, tapi juga yang lainnya, salahsatunya adalah sejarah. Seharusnya sejarah merupakan air paling bening untuk melihat masa lalu. Akan tetapi, kini sejarah juga tidak lepas dari jerat penjajahan Barat. Mereka, yang mempunyai akses dari uang sampai senjata, informasi sampai teknologi, terus-menerus berusaha melakukan penjajahan sejarah. Mereka berusaha menyingkirkan sejarah versi lain untuk kemudian memaksakan sejarah versi mereka. Lihatlah bagaimana mereka membuat sejaraah tentang Iran, Irak dan Afghanistan, Venezuela danCubaKorea Utara dan Indonesia. Lihat juga bagaimana mereka membuat sejarah tentang   Fidel Castro, Hugo Chaves dan Mahmud Ahmadinejad. Mereka menuliskannya sebagai nasionalis radikal, komunis atau fundamentalis. Simak pula bagaimana mereka membuat sejarah tentang Perang Salib, Perang Pearl Harbour dan Perang Vietnam.

Bagi kita yang peka, maka penjajahan sejarah itu begitu nyata di depan mata. Namun bagi yang tak peka semua itu tak terasa, bahkan tidak tahu sama sekali.

Vlad Dracula

Kembali lagi ke Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II dan Dracula. Kedua-duanya merupakan tokoh sejarah, Muhammad Al-Fatih adalah penguasa Kesultanan Turki Ottoman kekhalifan umat Islam ketika itu dan Dracula adalah penguasa Wallachia, Eropa. Keduanya juga hidup pada era yang sama, yaitu pada periode akhir Perang Salib. Dan, keduanya pernah terlibat dalam pertempuran yang telah merenggut banyak korban jiwa. Akan tetapi, dalam sejarah yang kemudian berkembang masing-masing mempunyai nasib yang berbeda.

Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tetap tercatat sebagi tokoh sejarah. Tentu saja ia dikenal sebagai“Pembebas Konstantinopel”. Sedangkan Dracula berbeda nasibnya. Ia lebih dikenal sebagai “Vampire”daripada sebagai manusia sejarah. Seperti yang di kisahkan oleh Bram Stoker dalam novelnya yang berjudul Dracula.

Namun walaupun begitu ia bernasib lebih mujur karena namanya justru di kenal di seantero dunia. Dan, harus diakui ia telah berhasil menenggelamkan nama musuh bebuyutannya, Muhammad Al-Fatihatau Mehmed II.

Saat ini bahkan umat Islam sendiri akan lebih mengenal Dracula daripada Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Nama Dracula tetap menjadi buah bibir bahkan setelah kematianya pada tahun 1476 M. Awalnya ia menjadi pembicaraan di kalangan masyaraakat pedesaan di Transylvania, Rumania, dan kemudian berkembang ke seantero Eropa. Namun yang terkenal kemudian bukan kekejamannya sebagai pembantai 500.000 manusia, sebagian besar mati karena di sula. Tetapi ia lebih dikenal sebagai hantu jadi-jadian atau Vampire, yaitu manusia penghisap darah. Yang di angkat dan di populerkan oleh Bram Stoker dalam novelnya yang berjudul Dracula. Kisah inilah yang kemudian terus-menerus didaur ulang sehingga menutupi fakta sejarah yang sebenarnya dan bahkan sudah ribuan film tentang Dracula ini.



Usaha Barat untuk mengangkat pahlawan mereka Dracula, dan menenggelamkan musuh merekaMuhammad Al-Fatih atau Mehmed II bisa dinilai berhasil. Penenggelaman tersebut dengan menggunakan symbol salib dan bawang putih. Lewat symbol salib Barat sebagaimana di uraikanHyphatia Cneajna dalam bukunya “Dracula, Pembantai umat islam dalam perang salib” ingin menunjukkan superioritas mereka. Bahwa merekalah yang mampu membunuh Dracula dengan salib ; bahwa merekalah yang bisa mengusir setan yang haus darah dengan salib. Mereka ingin mengatakan kepada dunia bahwa, merekalah ksatria dengan tanda salib di dada yang telah menyelamatkan dunia dari terror Dracula. Dengan cara inilah secara perlahan namun pasti Barat bisa memasukkan ke dalam kesadaran generasi sekarang tentang sosok Dracula. Sehingga nama ini terus-menerus di kenang sepanjang massa, dari anak kecil sampai orang tua. Dan, tak disadari terutama oleh umat Islam sendiri, pahlawan mereka pelan-pelan telah di tenggelamkan dari pentas sejarah. Tak mengherankan memang kalau kemudian kita umat Islam tak mengenal siapa itu Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II.

Tabiat Barat tersebut hingga kini tak pernah berubah. Saat ini mereka datang laksana ksatria pembebas negeri ke Negara-negara yang kata mereka menjadi sarang teroris. Mereka datang dengan membawa slogan kosong bahwa dunia saat ini sedang terancam Dracula baru yang disebut teroris. Padahal, semua itu cuma kedok mereka untuk melakukan penjajahan gaya baru.

Memang beralasan kalau Barat berusaha menenggelamkan nama Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Selain menyangkut dendam lama dalam Perang Salib Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II merupakan tokoh yang mampu merebut benteng terbesar pasukan Romawi, Konstantinopel. Usaha untuk menenggelamkan nama Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II juga bertujuan agar umat Islam terutama generasi mudanya tidak mempunyai tokoh pujaan yang ideal.

Tentu saja jika generasi Islam saat ini meng-idola-kan tokoh seperti Salahuddin Al-Ayubi danMuhammad Al-Fatih atau Mehmed II, yang kedua-duanya begitu gigih membebaskan Islam dari dominasi Barat. Maka jika ini terjadi tentu saja Amerika Serikat akan terusir dari Afganistan, Pakistan, Irak, Arab Saudi, Mesir, dan Indonesia, karena generasi muda Islam akan bersatu dan menendangnya keluar. Begitu juga dengan Israel yang menurut John Parkins, Israel adalah infanteri Amerika Serikat di Timur Tengah akan terusir dari bumi Palestina, dan rakyat Palestina pun akan merdeka.

Tokoh seperti Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II memang teladan yang ideal bagi simbol perlawanan terhadap Barat. Ia selain di kenal ulung dalam strategi perang ia juga seorang pecinta ilmu pengetahuan. Semasa hidupnya beliau mengundang ilmuwan dari berbagai macam Negara dan agama untuk menerjemahkan segala macam buku ke dalam bahasa Turki. Tak mengherankan kalau perpustakaaan di Turki pada masanya menjadi salahsatu perpustakaan paling lengkap di dunia. Karya-karya YunaniMesir dan Arab terkumpul menjadi satu sehingga siapapun yang ingin belajar akan menemukan luasnya samudera ilmu pengetahuan.

Yang juga perlu di catat dari Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II adalah toleransinya. SebagaimanaSalahuddin Al-Ayubi yang membebaskan Palestina, ketika memasuki Konstantinopel Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II tidak merusak satupun tempat ibadah agama Kristen maupun Yahudi. Semua tempat ibadah milik non Muslim tetap di biarkan berdiri dan umatnya beliau lindungi. Ini tidak hanya dilakukan Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II ketika membebaskan Konstantinopel. Sewaktu membebaskan Bosnia hal serupa juga beliau lakukan.

Tiga sifat Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II Anti Barat, pecinta ilmu pengetahuan dan mempunyai toleransi yang tinggi terhadap perbedaan agama, tentu sifat yang ideal. Jika umat Islam meniru keteladannya maka tentu saja minyak yang ada di Arab Saudi, Mesir, Sudan, Aljazair, Maroko, Libya, Qatar, UEA, Bahrain, Yaman, Oman, Yordania, Syuriah, Libanon, Kuwait, Irak, Afganistan, Pakistandan negeri kita yang tercinta ini, tidak akan di kuras oleh Amerika Serikat, dan Negara tempat mereka berada akan menjadi Negara yang benar-benar merdeka.

Sayangnya pemimpin di Negara-negara Muslim tidak mempunyai watak dan sifat seperti Muhammad Al-Fatih atau Mehmed II. Justru mereka menjual Negara mereka kepada Barat dan merendahkan harga diri mereka di hadapan Barat. Memberikan sumber daya alam yang sangat berharga, minyak, kepada tuan-tuan asing. Dan bahkan memfasilitasi Barat untuk membunuh saudara mereka. Lihatlah pembantaian di Gaza Palestina ini tidak terlepas dari andil Mesir yang tidak membuka perbatasan Rafahantara Mesir dan Palestina. Sungguh tragis memang. Dan juga masih ingat dalam memori kita bagaimana Arab Saudi dan Yordania memberikan fasilitas bandara mereka kepada Amerika Serikatuntuk membunuh saudara mereka di Irak. Ironi memang benar-benar Ironis.

Sementara generasi mudanya lebih memuja pahlawan-pahlawan ciptaaan Barat seperti Rambo, James bond, Hunter, Superman, Spiderman. Dan mencontoh tokoh-tokoh idola mereka seperti pemusik, bintang film holywood dan super model dari Barat. Hingga semua itu melenakan generasi Islam dan membawa mereka kepada penyembahan pada manusia dan berhala-berhala materi dan memper-tuhan-kan mode. Bahkan ada semacam kesimpulan bahwa jika seseorang tidak meniru gaya hidup barat atau tidak meng-idola-kan tokoh musik, bintang film dan super model barat ,adalah kuno aliastidak modern. Sebegitukah ??

Memang tidak mudah melepaskan diri dari dominasi Barat. Jerat-jerat itu memang begitu kuat mengikat kesadaran manusia. Walaupun begitu bukan berarti kita harus menyerah. Tentu pasti ada jalan keluarnya. Disamping kita kembali kepada sumber hidup umat Islam Qur’an dan Hadits, salahsatunya juga adalah kritis terhadap sejarah. Mengapa? Karena kekritisan terhadap sejarah akan membuat seseorang tidak mudah di perdaya, karena mengetahui peristiwa sebenarnya. Dan tidak mudah terpengaruh oleh propaganda media-media Barat, karena kita tahu hal sebenarnya yang terjadi.

Wallahu ‘a’lam bisawwab

Disarikan dari buku : “Sultan Mehmed II Sang Pembantai Dracula” karya Orhan Basarab.

Sunday, April 24, 2011

maybe...this is named heart

satu persatu aib terbuka...
satu persatu kelemahan terkuak...
satu persatu keterbatasan menyela langkah...


di sisi mana ukhuwah berada?


karena persaudaraan adalah bagaimana memahami aib, kelemahan, dan keterbatasan satu sama lain, bukan memakinya...
karena persahabatan adalah bagaimana saling melengkapi keterbatasan seseorang dengan ketidakterbatasan seseorang lainnya..
karena ukhuwah, bukan dilihat dari seberapa besar intensitas kebersamaan, seberapa besar pertolongannya, seberapa besar kehadirannya...tapi seberapa besar posisinya untuk memotivasi diri kita untuk tetap berQur'an...


akan selalu ada keterbatasan dan kelemahan di diri setiap akhwat..untuk di cover dengan kelebihan akhwat lainnya...bukan untuk ditinggalkan..


tapi...
hidup tetaplah sebuah roda...
kadang menjadi orang yang paling memperhatikan, kadang menjadi orang yang paling butuh diperhatikan, kadang memperhatikan dan diperhatikan...
kalaupun begitu, tetaplah dalam lingkaran...tetaplah berjalan...tidak ingin kan, terus berada dibawah? 


sedikit lebih lama berada di posisi yang sama, sama halnya seperti merenggangkan shaf, syaithan akal masuk di sela-selanya...kita akan semakin menjauh dari lingkaran...lalu menghilang...naudzubillah. lalu bagaimana kita akan berjalan, sedang kita tidak lagi berada pada roda yang berjalan?..


tetaplah merapat...tetaplah berjalan...dengan begitu, kita akan berputar n_n


*ah, naon sih si hana geje....
*uhibbukum fillah...honestly tah..

Tuesday, April 19, 2011

Miskin Kepercayaan...

Satu hari aku kembali dengan kecerobohanku. Flashdisk 4gb berisi semua data, termasuk data pribadi dan tugas akhir alias skripsi, tertinggal di lab komputer kampus. Ini kali ketiga setelah sebelumnya mp4 2GB dan flashdisk 2 GB yang tertinggal, lantas raib tanpa jejak. Dua kasus sebelumnya masih belum membuatku kacau, karena masih ada data cadangan. Tapi kali ini, cukup membuatku menangis selama 1 jam meratapi data yang raib.

Tiga kasus dalam dua tahun terakhir memang berakhir pada satu titik kesimpulan : KECEROBOHANKU. Namun tak urung aku bertanya, seberharga apakah sebuah flashdisk yang saat ini bisa didapat dengan harga 40rb? Apalagi untuk kalangan mahasiswa yang pasti punya masing-masing lah. Dan seberapa buta nurani seorang mahasiswa, untuk tidak menganggap sejumput data sangat berharga bagi mahasiswa lainnya, meskipun tidak untuk dirinya?

Dan dalam tiga kasus itu, bapak penjaga lab mengaku tidak tahu, tidak melihat, dan...ah entahlah, aku jadi berprasangka. beliau cenderung tidak peduli. pada kasus terakhir aku mencoba ikhtiar menempelkan pengumuman di dalam lab, namun besoknya pengumuman itu sudah dicabut. entah alasan apa...kerapihan? masya allah, dimana nurani?

dan tanggapan orang lain adalah...ah, neng, jaman sekarang mah emang kayak gini.

hari ini...genap seminggu sejak tragedi tertinggalnya flashdisk, iseng aku mengobrak-abrik meja penjaga lab komputer. aku temukan sebuah flashdisk 4GB yang sama rupanya dengan flashdisk-ku yang hilang, namun ragu, tidak ada gantungan flashdisknya. Entah kenapa niatku untuk mengecek isinya sangat mendominasi, meski itu berarti menuruti 'prasangka' burukku terhadap beliau...

dan ternyata...itu memang flashdisku!

ini hanya hal kecil...namun terjadi di mana-mana. tidak muak kah kau bertahan di dunia yang seperti ini? yang seperti ini sama sekali bukan masyarakat islam! miskin kepercayaan...

bodohnya, jika tetap bertahan dengan kondisi seperti ini...

Monday, April 11, 2011

Qur’an : Memang Masa Lalu, Tapi Juga Masa Kini dan Masa Depan


Terpikir sesuatu saat membaca sebuah kisah teror fisik yang dialami Rasulullah Muhammad ketika di Mekkah yang melatarbelakangi turunnya QS Al-Mu’min : 28.

“Dan seorang laki-laki beriman diantara pengikut-pengikut fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh laki-laki yang berkata bahwa Rabbku adalah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan dari Rabbmu.”” (QS Al-Mu’min : 28)

Ceritanya begini…

Saat itu Rasulullah tengah shalat di Hijr Ismail, lalu datang Uqbah bin Mu’aith. Melihat Rasulullah baru shalat, Uqbah melepaskan sorbannya, lalu dipilin menjadi sebuah jerat. Segera Uqbah menyergap Rasulullah dari belakang dan menjeratkan sorbannya ke leher beliau, lalu menariknya kuat-kuat. Rasulullah tercekik. Tiba-tiba datanglah Abu Bakar, segera beliau menangkap bahu Uqbah dari belakang dengan kuat dan dibantingnya tubuh Uqbah hingga terpelanting. Abu Bakar berkata pada Uqbah :

“Apakah kamu akan membunuh seseorang yang berkata bahwa, Rabbku adalah Allah, sedangkan datangnya kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata dari Rabbmu?”

Atas terjadinya peristiwa itu Allah menurunkan wahyu kepada Rasulullah :

“Dan seorang laki-laki beriman diantara pengikut-pengikut fir’aun yang menyembunyikan imannya berkata, “Apakah kamu akan membunuh laki-laki yang berkata bahwa Rabbku adalah Allah, padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa keterangan dari Rabbmu.”” (QS Al-Mu’min : 28)

***

Ya, pernah ada suatu masa dimana ucapan itu pernah terlontar dari mulut seorang lelaki pengikut fir'aun yang menyembunyikan keimanannya. Dan yang di'umpamakan' Allah dengan Laki-laki beriman diantara pengikut Fir’aun yang menyembunyikan imannya itu adalah Abu Bakar. Tapi mengapa Abu Bakar di'umpamakan' atau disetarakan Allah dengan pengikut fir’aun yang Allah sebutkan dalam firman tersebut, sedangkan Fir’aun sudah lama lenyap?

Saat itu tidak ada penguasa bernama Fir’aun disana. Namun ternyata penguasa yang ada memang satu karakter dengan Fir’aun. Penindasan, kekejaman, kejahiliyahan, penyembahan berhala dan roh nenek moyang, fanatisme golongan/kabilah/kebangsaan/ashabiyah, perpecahan, dll.

Well, walaupun tidak mendapat secara lengkap tafsir ayat ini, akal pun dapat menunjukkan bahwa al-Qur’an menunjukkan sejarah bukan hanya sekadar kisah dan pelajaran, tetapi sesuatu yang senantiasa ada di dunia.
Fir’aun bisa saja tidak ada, tapi karakter dan sifat-sifatnya akan terus ada yang mewarisi.

Seperti juga Qur’an menceritakan kepemimpinan seorang Rasul. Rasul bisa saja sudah tidak ada lagi, namun fungsi rasul akan tetap senantiasa ada yang mewarisi.

Kejahiliyyahan mungkin saja merupakan masa lalu, tetapi juga muncul pada masa kini, dan masa depan.
Qur’an,  memang berlaku pada masa lalu. Tetapi JUGA seharusnya MASA KINI dan MASA DEPAN.
Sejarah dalam Al-Qur’an, bukanlah sekedar masa lalu, tapi juga hari ini dan masa depan. Pun, cara menyikapinya sudah jelas tercantum sepaket dengan kisah-kisahnya di dalam al-Qur’an.

Kawan, Rasulullah membentuk masyarakat Islam, yang melandaskan seluruh bidang dalam kehidupannya pada Islam yang diturunkan Allah secara murni tanpa penambahan atau pengurangan, tanpa pencampuran. Meski itu adanya di masa lalu, tapi masa kini dan masa depan, masyarakat Islam akan tetap ada. 

Carilah, karena kita hanya diperintah menyembahNya dengan MURNI (ikhlas)  dalam din yang lurus.

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas mentaatiNya semata-mata karena (menjalankan) din, dan juga agar mendirikan shalat dan menunaikan zakat, dan yang demikian itulah din yang lurus (benar),”(QS Al-Bayyinah : 5)

Sumber kisah :
1.Al-Qur'anul Karim
2. Yang Tegar Dalam Dakwah, Abu Ahmad Marwan, 1414H, Penerbit YP2SU
3. Sirah Nabawiyah
4. Dll...